Feeds:
Tulisan
Komentar

Dari Audisi KETIKA CINTA BERTASBIH

SAAT menulis kolom ini, saya baru saja selesai melakukan satu kerja maraton selama empat hari. Saya menjadi juri Audisi 5 Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) untuk wilayah Jabodetabek bersama Sutradara Chaerul Umam, Neno Warisman, Didi Petet, Zak Sorga, dan ternan-ternan dari Sinemart. Audisi dilakukan di GOR Ragunan, Jakarta. Peserta yang datang membludak Tak kurang dari 2.500 orang. Itu pun pada menit terakhir hari keempat, masih banyak yang mendaftar ikut audisi. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, audisi terpaksa ditutup pada angka 2.535. Audisi yang diadakan di Jakarta adalah yang terakhir dari sembilan kota besar di Indonesia. Sebelumnya telah dilakukan audisi di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Padang, Makassar, Pontianak, dan Bandung.

Di semua kota, audisi ini disambut sangat hangat oleh masyarakat. Audisi di Semarang misalnya, didatangi peserta hampir merata dari seluruh kota di Jawa Tengah seperti Semarang sendiri, Salatiga, Pemalang, Pekalongan, Purwokerto, Temanggung, Magelang, Solo, Kudus, Blora, dan kota kecil lainnya. Mereka datang dari berbagai kalangan. Ada pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, karyawan bank, guru TK, bahkan ibu rumah tangga. Mereka semua ingin terpilih jadi artis. Motivasi ikut audisi juga bermacam-macam. Ada yang karena niat untuk dakwah. Ada yang sekadar ingin cari pengalaman. Ada yang katanya diminta orang tua. Ada yang katanya ingin jadi orang ndeso yang terkenal. Ada juga yang ingin mengubah nasib ekonomi keluarga. Kecuali sebagian peserta yang tutus karena ingin andil berdakwah, memajukan bangsa, sebagian besar masih tampak bahwa motivasi audisi adalah ingin jadi artis terkenal.

Di Indonesia, bahkan di dunia secara umum, menjadi artis terkenal adalah dambaan banyak orang. “Siapa sih yang tidak ingin jadi artis?” kata seorang remaja yang ikut audisi di Semarang. Menurut Zak Sorga dengan nada menantang dalam bukunya 5 Terobosan Menjadi Artis, hanya orang gila yang tidak mau jadi artis. Dalam logika kebanyakan orang, jadi artis itu enak. Jadi artis bisa hidup enak. Di mana-mana banyak ternan, banyak yang mengenal. Banyak yang mengagumi dan mendoakan. Jalan ke mana-mana mudah. Tidak hanya gratis, malah dibayar. Berbicara setengah jam saja sekian juta. Cuma senyum saja dalam sebuah iklan bisa dapat sekian ratus juta. Juga dalam logika realistis, melalui dunia artis, banyak bidang yang bisa dirintis. Setelah sukses jadi artis, bisa jadi pengusaha, konsultan tata busana, jadi politikus, duta PBB, bahkan bisa jadi bupati, gubernur bahkan presiden. Ronald Reagan yang mantan presiden Amerika Serikat itu dulu adalah seorang artis.

Di Indonesia banyak artis yang jadi anggota DPR, bahkan wakil gubernur. Bahkan, ada yang jadi ustadz. Itulah kenapa dalam audisi KCB di Bandung sampai ada peserta yang pingsan ketika diumumkan bahwa dia tidak lolos ke babak kedua. Pingsan tidak hanya sekali, tapi tiga kali. Tidak lolos masuk babak berikutnya seolah-olah sudah kiamat. Hal yang sama sekali jauh dari tujuan diadakannya audisi film Ketika Cinta Bertasbih.

Film yang diangkat dari novel Ketika Cinta Bertasbih ini, bertujuan untuk turut membangun mental dan karakter generasi muda di Indonesia. Diadakannya audisi di sembilan kota adalah demi mencari pemeran utama yang karakternya dekat dengan lima tokoh utama, yaitu Azzam, Anna, Husna, Furqan, dan Eliana. Karakter yang layak jadi teladan baik di dalam film maupun di luar film. Tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat untuk menjadi agen perbaikan bagi lingkungannya bukan yang sekadar tampan atau cantik. Tadi malam, saat para peserta menerima amplop dari dewan juri. Amplop yang menentukan mereka lolos dan tidak ke tahap berikutnya. Ada adegan yang menarik dihayati. Ada peserta yang menangis karena lolos. Ada peserta yang menangis karena gagal. Ada yang merasa dirinya sudah memiliki segalanya untuk jadi pemeran utama, tapi gagal. Ada artis yang ikut audisi tapi tidak berani ikut acara pengumuman, sebab malu kalau ternyata gagal.

Dengan hati bergetar, saya berusaha mengambil hikmah dengan mengingatkan pada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh peserta audisi malam itu. Bahwa ini baru audisi di dunia, ada audisi sesungguhnya di akhirat nanti. Audisi yang paling menentukan. Yang menilai semua akting kita selama hidup di dunia. Saatnyalah ditengah glamor duniawi untuk juga merenungi kira-kira apa hasil audisi kita di akhirat kelak. Saat itu dengan tangan kiri ataukah dengan tangan kanan kita menerima hasil audisi kita? Bahagia atau sedihkah kita saat itu? Bangga atau malukah kita? Di surga ataukah di neraka tempat kita selanjutnya? Audisi di akhirat itulah yang menentukan kita jadi bintang sesungguhnya ataukah jadi orang paling menderita. Dan jika kita, penduduk negeri ini, senantiasa mengingat audisi akhirat, maka negeri ini akan dipenuhi orang-orang yang sangat menjaga kualitas hidupnya. Jika itu yang terjadi negeri ini akan segera makmur dan sejahtera. Amin.

Jakarta, 14 Juli 2008

Sumber: SINDO, Juli 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

YANG HIDUP DAN MATI UNTUK ILMU

SALAH satu anugerah agung dari Allah SWT yang saya dapat ketika belajar di Mesir adalah, saya bisa mengenal bagaimana para ulama dan cendekiawan dahulu begitu dahsyat mencintai ilmu dan buku. Saya mengagumi mereka sebagai manusia-manusia yang hidup dan matinya sepenuhnya untuk ilmu pengetahuan. Manusia yang sangat susah dicari semisalnya di zaman sekarang. Jenis manusia-manusia langka. Saya masih sering menyediakan waktu membuka-buka sejarah hidup mereka. Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengambil semangat dan energi positif dari mereka.

Di antara mereka, ada seorang cendekia yang dikenal sebagai orang yang sangat rakus pada buku. Ia dikenal sebagai pembaca semua jenis buku. Orang-orang di zamannya sampai beranggapan bahwa di bawah kolong langit ini dialah yang paling banyak membaca buku. Mereka menjulukinya Al Khazin, yang artinya ‘gudang’. Sebab ia dikenal sebagai gudangnya ilmu. Kepalanya seolah-olah gudang yang berisi ribuan buku. Cendekiawan ini banyak menulis karya berharga. Di antara karyanya yang sangat terkenal adalah sebuah tafsir, dikenal dengan nama Tafsir Al Khazin. Ada seorang penjaga perpustakaan yang mengukir sejarah yang menggetarkan jiwa. Ya, ia hanya seorang penjaga perpustakaan di zaman Daulah Abbasiyyah. Tak kurang, tak lebih. Saat itu, tak ada yang mengenalnya, kecuali sebagai penjaga perpustakaan yang biasa saja. Siapa pun yang mengenalnya tak melihat ada yang istimewa pada dirinya. Rutinitasnya tampak biasa-biasa saja. Antara rumah dan perpustakaan. Namun ada satu hal yang tidak diketahui banyak orang, bahwa dia adalah seorang penjaga perpustakaan yang haus ilmu.

Sambil menjaga perpustakaan, dia kadang melahap buku dengan rakusnya setiap hari. Bertahun-tahun ia menjalani rutinitas itu; “melahap” buku setiap hari. Setiap kali selesai membaca sebuah buku, dia menuliskan semacam resensi singkat dan hal-hal penting dari buku yang dia baca. Ia juga rajin memberi komentar, juga sanggahan kecil pada hasil bacaannya. Begitu terus.

Tak terasa puluhan ribu buku dia baca dan catatannya itu juga beribu-ribu halaman. Ia juga telah memberi komentar penting tentang banyak masalah dalam pelbagai cabang ilmu. Terutama sejarah dan bahasa Arab. Catatan-catatan itu dia beri judul Al Fihris, artinya daftar isi. Setelah dia meninggal, Al Fihris yang berjilid-jilid itu jadi salah satu rujukan terpenting dalam ilmu keislaman dan sastra Arab.

Al Fihris yang berjilid-jilid itu mendapat banyak pujian dari cendekia dan ulama setelahnya. Sampai sekarang Al Fihris termasuk karya penting bagi dunia Arab dan dunia Islam. Penjaga perpustakaan yang keluasan ilmunya diakui dan dipuji banyak ilmuwan itu adalah Imam Ibnu Nadim.

Setelah ia meninggal, dan catatannya dibaca orang, barulah sejarah mencatat bahwa Ibnu Nadim yang bersahaja itu bukanlah orang sembarangan. Ia seorang ilmuwan yang brilian. Di Kufah, ada ilmuwan pakar bahasa, sastra, hadis, dan qiraah yang sangat dikenal tidak mau berpisah dengan buku.

Ke mana saja dia selalu membawa dan membaca buku. Hanya ketika buang hajat saja, dia berpisah dengan buku. Dia adalah Imam Tsa`lab Asy Syaibani Al Kufi. Bahkan, jika Imam Tsa`lab diundang seseorang, dia selalu mensyaratkan agar diberi tempat khusus untuk bisa meletakkan dan membaca buku yang dibawanya. Karena kecintaannya pada buku, Imam Tsa`lab pun meninggal karena konsentrasinya membaca buku.

Di dalam kitab Wafayatul A`yan, dikisahkan, bahwa penyebab kematian Imam Tsa`lab adalah; ia baru saja keluar dari masjid usai salat asar pada hari Jumat. Saat itu ia sedang menderita gangguan pendengaran sehingga tidak mendengar, kecuali suara yang keras dan sangat dekat dengan telinganya. Ketika itu di tangannya ada sebuah buku. Dan ia sangat asyik membacanya sambil berjalan. Konsentrasinya sepenuhnya terpusat pada buku yang ia baca. Ternyata, tanpa ia ketahui ada seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Ia sama sekali tidak mendengar derap kaki kuda yang meluncur ke arahnya. Akhirnya tanpa bisa dicegah, ia tertabrak kuda itu dan terpental jatuh ke parit. Orang-orang berusaha menolongnya. Namun keadaannya benar-benar kritis, ia mengeluh sakit di bagian kepala. Ia meninggal dua hari berikutnya karena sakit yang dideritanya akibat kejadian itu.

Lain lagi dengan Al Jahidh, pujangga yang dikenal menguasai dan mendalami pelbagai cabang ilmu. Sejarah mencatat bahwa tidak banyak manusia yang bisa menandingi Al Jahidh dalam hal membaca. Dalam kitab Siyar A`lam Nubala ditulis bahwa jika Al Jahidh mendapati sebuah buku, apa pun tema buku itu, ia akan langsung membacanya sampai selesai.

Ia bahkan sampai menyewa sejumlah toko buku agar dapat bermalam di dalamnya untuk dapat membaca dan mengenali buku-buku yang ada di dalamnya. Pujangga yang telah menulis ratusan buku dalam pelbagai cabang ilmu ini, menurut Emil Nashif dalam bukunya Arwa` Ma Qila Fil Fadhail, meninggal dunia karena tertimpa tumpukan ratusan buku yang ambruk di dalam perpustakaannya.

Saya yakin jika anak bangsa ini banyak yang memiliki rasa cinta kepada ilmu dan buku yang mendalam seperti Al Khazin, Ibnu Nadim, Imam Tsa`lab, dan Al Jahidh, maka peradaban mulia akan benar-benar hadir di persada Nusantara ini. Rasanya negeri ini lebih membutuhkan manusia-manusia yang hidup dan mati untuk ilmu dan kemajuan peradaban daripada yang hidup dan mati sekadar untuk menang pemilu dan jadi presiden.

Singapura – Jakarta, 7 Juli 2008

Sumber: SINDO, Juli 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

KESEMPATAN KEDUA. Tangga

Sungguh ku sesali

Nyata cintamu kasih

Tak sempat terbaca hatiku

Malah terabai olehku

Lelah ku sembunyi

Tutupi maksud hati

Yang justru hidup karenamu

Dan bisa mati tanpamu

Andai saja…

Aku masih punya kesempatan kedua

Pasti akan ku hapuskan lukamu

Menjagamu memberimu segenap cinta

Kusadari tak selayaknya

Selalu buatmu kecewa

Kau lebih pantas bahagia

Bahagia karena cintaku

Kau bawa bersamamu

Sebelah hatiku separuh jiwaku

Yang mampu sempurnakan aku

HARUMnya Jalan KESEDERHANAAN

”TIDAK mengetahui sedikit pun mengenai masa lampau, berarti memahami sedikit masa kini, dan tidak memiliki konsep untuk masa depan.” Sederet kalimat ”bergizi” dari John Logan itu, kembali menyadarkan saya akan pentingnya masa silam.

Masa silam laksana sebuah tongkat yang membantu saya menapaki jalan kehidupan yang terjal dan berliku. Masa silam adalah cahaya yang menuntun saya melangkah pada jalan keindahan. Juga adalah kaca tempat saya semestinya becermin. Dalam masa silam, saya menemukan pelajaran yang teramat berharga, bagaimana meniti kehidupan ini sebaik mungkin. Ada teladan indah dari orang-orang dari masa silam, yang patut untuk saya teladani. Karenanya, salah satu kegemaran saya adalah membaca sejarah orang-orang dahulu.

Membaca kisah Abu Dzar al-Ghifari, hati saya sering kali basah. Dalam diri sahabat Nabi itu, saya menjumpai seorang pribadi yang begitu kukuh memegang teguh prinsip kebenaran, dan lantang menyuarakan kebenaran meski harus bertentangan dengan penguasa. Dan demi semua itu, ia sanggup menapaki jalan sunyi kehidupan dan hidup dengan sangat sederhana.

Tentang Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah SAW pernah mengatakan, ”Abu Dzar berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.” Benar juga, menjelang ajalnya tiba, tak ada seorang pun yang berada di sisinya, kecuali istri dan anaknya. Kepada putranya, ia berpesan, ”Mandikanlah aku, kafani, lalu letakkan aku di tengah jalan dan siapa pun yang pertama lewat, katakan kepadanya, ini mayat Abu Dzar al-Ghifari, sahabat Rasulullah.

Bantulah kami menguburkannya.” Dan benar, ketika Abu Dzar meninggal dunia, istri dan anaknya memandikan dan mengafaninya, lalu meletakkan di tengah jalan. ”Manusia terlahir dengan telanjang, sendirian tanpa membawa apa-apa. Kelak, ia akan menghadap Tuhan sendirian, telanjang dan tak membawa apa-apa.” Demikian orang bijak memberikan nasihat.

Dan Abu Dzar telah menunjukkannya, dalam kisah hidupnya yang luar biasa. Meski meninggal dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, namanya begitu harum dikenal sejarah. Mengenang sosok Muhammad Hatta, saya menemukan teladan yang tak kalah memukau. Setelah mengundurkan diri dari jabatan paling penting di negara ini, wakil presiden, beliau memilih menjalani kehidupan yang sangat sederhana.

Sembari membaktikan hidupnya di jalan ilmu pengetahuan, menjadi seorang dosen. Salah seorang putrinya bahkan pernah menuturkan, kalau gaji pensiunannya tidak cukup untuk membayar tagihan listrik dan air minum. Namun, sejarah begitu setia mengingat keharuman namanya.

Tak jauh berbeda dengan Hatta, Imam Khomeini, tokoh Revolusioner Iran dalam embusan napasnya yang terakhir, hanya meninggalkan harta yang tak berkilau: sejengkal tanah, sebuah rumah tanpa perabot dan sepotong sajak. Dan tentu saja, di antara semua itu, tokoh yang paling saya kagumi adalah Rasulullah. Bersama Khadijah, istrinya, pernah beliau mencapai puncak kejayaan di dunia bisnis. Namun, tak pernah saya mendengar cerita tentang kehidupannya yang bermewah-mewah.

Sementara, teramat banyak kisah yang menceritakan kehidupan beliau yang penuh kesahajaan dan kesederhanaan. Rumah beliau terbuat dari tanah liat, tidak besar dan pendek. Pakaian yang beliau kenakan, pakaian dari kain yang kasar. Adakalanya beliau mengenakan kain dan selendang semata. Beliau tidak pernah kenyang, dan lebih sering menjadi makanannya hanyalah roti gandum. Pernah beliau menyelipkan batu di perutnya karena menahan lapar.

Saat tidur, beliau hanya beralaskan tikar sehingga anyaman tikar itu pun membekas dalam lambung beliau. Pernah beliau menggadaikan baju besinya kepada seorang yahudi untuk memberi makan keluarganya. Membaca kisah-kisah yang luar biasa dari tokoh-tokoh istimewa di atas, saya terhentak sendiri. Saya melihat sebuah benang merah, yang menyatukan orang orang besar itu dengan keharuman sejarahnya.

Benang merah itu bernama kesederhanaan dan kesahajaan. Ketika jiwa sudah mendekati puncak kesempurnaannya, ia mulai merasa tidak nyaman dengan kemegahan dunia, dan hidup dalam kesederhanaan menjadi jalan yang indah untuk ditempuh. Dan kesederhanaan itulah pada akhirnya yang menunjukkan kualitas tingkat kebesaran mereka.

Sering kali saya merasa begitu malu mengingat kesederhanaan orang-orang besar itu. Betapa jiwa ini masih begitu kerdil, masih sering tamak pada pesona duniawi. Padahal, Rasulullah pernah mengingatkan, ”Seandainya manusia mempunyai dua lembah dari emas, niscaya ia akan menginginkan tiga lembah. Tidak ada yang bisa mengenyangkan perutnya kecuali tanah.”

Batur-Klaten, 23 Juni 2008

Sumber: SINDO, Juni 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

KEBEBASAN si Ro`i


KEBEBASAN si Ro`i

DULU, saat masih belajar di sebuah pesantren di Mranggen, Demak, kami para santri mengenal sosok makhluk berbentuk manusia yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Namanya Ro`i.

Hampir seluruh santri, putra maupun putri, sangat hafal nama dan perilakunya. Masyarakat Mranggen pun kenal baik dengan si Ro`i ini. Terkadang kami melihat si Ro`i begitu bebasnya tertidur pulas dengan telanjang bulat di trotoar Pasar Mranggen. Lain waktu kami melihat si Ro`i makan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Ada kalanya dia ngoceh tidak karuan.

Dia begitu bebas mengatakan apa saja, memaki-maki siapa saja, dengan bahasa apa saja. Kadang kadang kami menemukannya menari-nari seenak perutnya, tentu saja sambil telanjang bulat, tak peduli meskipun saat itu ada Bu Nyai lewat bersama santri-santri putri. Pernah si Ro`i itu bikin geger karena memamer-mamerkan, ”pusaka” pribadinya pada santriwati yang lewat, dan menguber para santriwati itu. Kontan saja para santriwati itu berlarian sambil menjerit- jerit. Namun, para kiai dan masyarakat tidak ada yang marah atau tersinggung dengan segala kebebasan tingkah laku yang diekspresikan dan dipertunjukkan si Ro`i. Sebab, semua orang tahu siapa itu si Ro`i. Menyinggung si Ro`i, Pak Kiai pernah mengatakan, ”Orang yang hilang akalnya seperti si Ro`i tidak masuk dalam taklif.

Dia terbebaskan dari hukum syariat. Tidak ada label dosa atau pahala untuk orang gila seperti Ro`i. Dia itu, WUJUDUHU KA `ADAMIHI. Ada dan tidak adanya sama saja.” Di pesantren kami ada banyak peraturan. Misalnya kalau kami mau talaqqi, mengaji Alquran, harus memakai pakaian yang terbaik. Tidak boleh pakai kaus. Selesai salat, kami tidak boleh langsung srantal bubar, harus zikir dulu. Kami tidak boleh keluar pesantren seenaknya tanpa izin, dan sebagainya. Suatu ketika, ada seorang santri yang menggugat peraturan-peraturan itu kepada pengurus pesantren. Bahkan, dia menggugat kenapa harus ada hafalan Alfiyah segala.

”Mbok kami dibebaskan saja sebebas- bebasnya, sedemokratis mungkin. Kalau banyak peraturan itu tidak demokratis. Kenapa sih harus salat subuh berjamaah? Kenapa Pak Kiai harus membangunkan satu per satu santrinya. Biar santri sadar sendiri saja. Kenapa santri putri diwajibkan pakai jilbab? Tidak usahlah diwajibkan, itu membelenggu namanya. Biar sadar sendiri saja. Tidak usah diberi peraturan, dan tidak usah ditekan-tekan dengan hukuman segala?”

Protes santri itu disampaikan kepada Pak Kiai. Dengan enteng, Pak Kiai menjawab, ”Kalau kalian hilang akalnya seperti si Ro`i, maka kalian dengan sendirinya bebas sebebas-bebasnya. Tak ada syariat, hukum, peraturan, dan norma yang mengikat orang gila, orang yang hilang akalnya. Jadilah orang gila seperti si Ro`i itu, maka kau bebas sebebas-bebasnya.

Apa yang disampaikan Pak Kiai itu sesungguhnya dalam maknanya. Bisa jadi perenungan kita bersama tentang hakikat kebebasan. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah adegan yang menarik di layar kaca, ketika seorang penyanyi ditanya,mengapa dia mengumbar auratnya. Dengan wajah yang sangat tenang, artis itu menjawab, ”Lho apa salahnya, bukankah ini bagian dari kebebasan berekspresi.” Di kesempatan yang lain, saya mendengar bahwa ada beberapa kalangan yang meminta pembubaran Lembaga Sensor Film lantaran dianggap memasung kebebasan berkarya dan menghambat kreativitas berkesenian.

Ya, manusia mendamba kebebasan tentu bukanlah hal yang baru. Jauh dalam lubuk manusia, selalu saja terpendam keinginan untuk bebas. Dulu, ketika masih kecil, saat orangtua kita memaksa kita masuk sekolah, diam-diam sering kita membayangkan, betapa indahnya kalau kita bebas untuk tidak sekolah, seharian kita bebas bermain, tidak ada guru yang memberikan PR, tidak ada kewajiban bangun pagi-pagi.

Kini, setelah kita dewasa, saat kita sudah sibuk dengan pekerjaan kita, perasaan yang serupa pun sering kali muncul, diam diam kita juga membayangkan indahnya suasana kerja tanpa diawasi oleh bos, tanpa aturan masuk pagi, juga dead line. Saat kita melintas jalan raya, kita bermimpi bisa melintas secara bebas, tanpa hambatan, tanpa kemacetan, tanpa rambu rambu lalu lintas, juga pengawasan polisi.

Dan begitu seterusnya, keinginan bebas melingkupi hampir seluruh dimensi kehidupan. Tapi benarkah kehidupan yang benar benar bebas tanpa kontrol semacam itu yang kita harapkan? Pada kenyataannya tidak. Ada benarnya sekolah mengungkung kebebasan kita, tetapi akal sehat kita mengatakan kita memerlukannya.

Tak pernah tebersit sedikit pun keinginan kita untuk meninggalkannya. Di setiap para orangtua tetap menyuruh anaknya untuk bangun ke sekolah daripada tiduran di rumah. Karena kita tahu, aneka kungkungan positif itu sesungguhnya akan mengantar anak anak menjadi lebih baik. Rasanya begitu menjengkelkan harus mematuhi aneka ragam peraturan lalu lintas. Harus berhenti saat lampu merah. Harus mengenakan helm atau sabuk pengaman. Tapi begitu jalanan itu benar-benar dibersihkan dari aneka ragam peraturan, kita pun buru-buru membuat aturan aturan baru. Lihat saja betapa bersemangatnya orang-orang kompleks membuat polisi tidur di sepanjang jalan di depan rumah.

Manusia suka kebebasan, tapi hampir di seluruh penjuru dunia ini, semua manusia selalu membuat peraturan. Dan karenanya, terciptalah aneka ragam larangan yang membatasi gerak mereka. Manusia mencipta sebuah negara, memberikan mandat agar negara membuat peraturan untuk membatasi mereka, mengeluarkan biaya untuk membayar orang-orang yang menjaga agar peraturan itu benar-benar ditaati.

Mengapa mereka melakukan semua itu? Karena itulah jalan yang terbaik bagi kehidupan mereka. Seandainya tanpa peraturan dan negara, maka hukum rimba yang terjadi. Manusia akan terus dicekam rasa takut bahwa sewaktu-waktu ada orang yang merampas apa yang dia miliki dengan dalih kebebasan.

Dan di sini kebebasan dari hukum sesungguhnya telah menghadirkan penjara ketakutan yang luar biasa. Agama juga hal yang hampir serupa, di dalam sebuah agama selalu terkandung aneka ragam hukum, peraturan dan kaidah yang harus ditaati pemeluknya. Ada banyak perintah, juga larangan.

Secara sepintas, mungkin kelihatan membelenggu, tapi sesungguhnya bagi yang memahaminya dengan baik, semua itu justru dibuat untuk menjamin rasa merdeka dan aman pada manusia, dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang penuh belenggu. Misalnya, Tuhan memerintahkan kita untuk menjauhi minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Karena dengan itu, jasmani kita lebih sehat. Kemampuan kita untuk menahan diri dari obat-obatan terlarang, sesungguhnya adalah bukti betapa kita tidak terbelenggu oleh naluri hewani kita. Bayangkan kalau kita menjadi ketagihan dengan obat-obatan terlarang, bukankah menjadi orang yang terjajah oleh naluri kita yang tak terkendali itu.

Tuhan mengharamkan kita melakukan free sex, zina, dan selingkuh. Dengan menaati larangan ini, maka menunjukkan betapa merdekanya kita. Kita memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Kita tidak larut dan menjadi budak hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungannya yang rendah.

Karena hanya manusia yang bebas dari perbudakan nafsu yang mampu mengatur naluri dan keinginan seksualnya di jalan yang bersih, hingga tidak seperti hewan yang tidak memiliki akal. Sesungguhnya yang membedakan manusia dan hewan adalah akal sehatnya. Hanya manusia yang berakal sehat dan bernurani sehat yang mampu memahami bahwa norma, hukum, dan syariat pada hakikatnya adalah benteng untuk menjaga kemerdekaan manusia sebagai manusia.

Sabda Nabi Muhammad, ”Jika kamu tidak malu, berbuatlah semaumu.” Orang yang tidak memiliki rasa malu persis seperti si Ro`i di atas, maka dia bebas berbuat semaunya. Na`udzubillah.

Kukusan, Depok, 15 Juni 2006

Sumber: SINDO, Juni 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

BENARKAH RASA NASIONALISME BANGSA INDONESIA TELAH MEMUDAR?

SETUJUKAH ANDA

BILA BANGSA INDONESIA SAAT INI TELAH MEMUDAR RASA NASIONALISMENYA?

20 Mei adalah tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itulah berdirinya organisasi Boedi Oetomo, dan tanggal lahirnya Boedi Oetomo tersebut (tepatnya 20 Mei 1908) kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada tahun ini Hari Kebangkitan Nasional kita peringati yang ke 100 tahun atau satu abad dengan tema “Indonesia Bisa”. Pada zaman itu makna kebangkitan jelas yaitu kebangkitan untuk melawan penjajah yang dipelopori oleh generasi muda dengan tujuan yang jelas pula yaitu kemerdekaan Indonesia sebagai negara, tetapi setelah kemerdekaan di raih, lambat laun rasa nasionalisme bangsa Indonesia semakin memudar terutama di kalangan generasi muda, terlebih pada saat ini dunia memasuki era globalisasi dimana tatanan ekonomi, politik, dan budaya dari seluruh dunia bebas saling berbaur. Erosi nasionalisme ini mengakibatkan kemunduran bangsa Indonesia. Oleh karena itu kemunduran nasionalisme perlu dibangkitkan kembali. Kebangkitan nasionalisme dapat bermakna luas sekali dan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional ini merupakan saat momentum yang tepat untuk melakukannya. Menarik kita simak iklan yang disampaikan oleh sang “Nagabonar” (Deddy Mizwar, pemain dan sutradara film Nagabonar) dalam iklan yang memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional:

“BANGKIT ITU SUSAH, susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang;

BANGKIT ITU TAKUT, takut korupsi, takut makan yang bukan haknya;

BANGKIT ITU MENCURI, mencuri perhatian dunia dengan prestasi;

BANGKIT ITU MARAH, marah bila martabat bangsa dilecehkan;

BANGKIT ITU MALU, malu jadi benalu, malu karena minta melulu;

BANGKIT ITU TIDAK ADA, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa;

BANGKIT ITU AKU UNTUK INDONESIAKU.”

Jadi, SETUJUKAH ANDA…

CINTA, SAHABAT, dan BUKU

MONTESQUE, pemikir besar Eropa Abad Pertengahan pernah berkata, ”Untuk mencapai hidup sempurna, saya membutuhkan tiga hal: cinta, sahabat, dan buku!” Apa yang diharapkan Montesque, sepertinya telah dimiliki seorang sastrawan terkemuka Indonesia, yaitu Ajip Rosidi.

Pertengahan bulan lalu, tepatnya pada hari Jumat (16/5), saya berkesempatan berkunjung ke rumah sastrawan yang menulis buku Rikmadenda Mencari Tuhan itu. Saya bersama sutradara Chairul Umam, adik saya, Anif Sirsaeba, dan Dani Sapawie dari Sinemart. Awalnya niat kami adalah sekadar refreshing, setelah satu hari penuh memeras otak mendiskusikan skenario film Ketika Cinta Bertasbih di Semarang.

Sutradara Chairul Umam mengusulkan untuk melihat Pesantren Pabelan, Magelang. Dia ingin bernostalgia saat dulu pernah menggarap film Al Kautsar di pesantren itu. Menjelang Ashar kami sampai di Pabelan. Kami disambut dengan sangat hangat oleh pengasuh pesantren. Kami diajak mengelilingi pesantren yang pernah menerima penghargaan Aga Khan tingkat dunia Islam itu. Setelah cukup bersilaturahmi, oleh pengasuh pesantren, kami diantar ke tempat tinggal Ajip Rosidi yang letaknya tidak begitu jauh dari pesantren.

Kediaman sastrawan yang pernah seperempat abad mengajar di Jepang itu berdiri atas tanah seluas tidak kurang empat hektare. Ada empat bangunan berbentuk vila di situ. Satu vila untuk tamu, yang kedua untuk anak, ketiga tempat tinggal sang sastrawan dan yang keempat, yang terletak di samping pintu gerbang adalah perpustakaan. Cinta, sahabat, dan buku! Demikian kata Montesque. Kami datang disambut oleh istri Ajip Rosidi dengan sangat ramah. Dia lalu membangunkan sang suami yang sedang beristirahat. Kami melihat sekilas kemesraan di antara mereka. Lalu muncul anak menantu dan cucu Ajip Rosidi.

Sekilas kami bisa menangkap binar rasa bahagia di mata Pak Ajip Rosidi memandangi cucunya. Itulah cinta. Itulah mawaddah. Lalu saya melihat bagaimana hangatnya dua sahabat lama bertemu, berangkulan dan bersenda-gurau. Itulah Ajip Rosidi dan Chairul Umam. Keduanya begitu akrab dan tidak lagi ”menjaga” kebesaran nama masing-masing. Bergurau begitu saja. Santai. Kami semua jadi ikut bergurau. Di sela-sela ngobrol, Ajip Rosidi sempat memuji novel Ayat- Ayat Cinta.

”Jujur saja, saya membacanya setelah Ayat-Ayat Cinta terjual sebanyak empat ratus ribu eksemplar. Saya kan jadi penasaran, belum pernah di Indonesia ada karya sastra yang diapresiasi dan dibaca masyarakat luas seperti Ayat-Ayat Cinta. Ini sungguh karya yang fenomenal,” kata Pak Ajip Rosidi. ”Ya cukup, sampai di situ saja. Jangan dikritik! Kamu buat dulu yang lebih best seller dari Ayat-Ayat Cinta baru mengkritik. Hehehe…,” canda Chairul Umam memotong perkataan Ajip Rosidi.

Keduanya lalu tertawa renyah. Cucu dan menantu Pak Ajip muncul dan minta foto bersama. Ternyata mereka pencinta Ayat- Ayat Cinta. Ajip Rosidi adalah sastrawan besar, dan Chairul Umam adalah sutradara dan seniman besar Indonesia. Chairul Umam sepertinya begitu hafal apa saja yang dilakukan Ajip Rosidi dan keluarganya. Seolah-olah Chairul Umam itu bagian dari keluarga Ajip Rosidi.

Itulah kesan yang saya tangkap. Di jalan ketika kembali ke Semarang lewat Ketep, Chairul Umam masih sempat bercerita kepada kami tentang kebaikan-kebaikan Ajip Rosidi waktu muda. Di Ketep, Chairul Umam bercerita bahwa dirinyalah orang Indonesia yang pertama kali membacakan cerpen di TIM Jakarta, dan itu atas rekomendasi Ajip Rosidi. Sejak itulah di Indonesia dikenal adanya pembacaan cerpen. Saya baru tahu mereka berdua termasuk jenis manusia pencipta sejarah.

Saya jadi banyak belajar, khususnya tentang kesetiaan seorang sahabat. Itulah sahabat. Itulah kesetiaan seorang sahabat. Setelah memiliki cinta, memiliki sahabat sejati adalah kesempurnaan yang tiada ternilai harganya. Dan buku! Sebelum meninggalkan kediaman Ajip Rosidi, kami sempat diajak melihat-lihat perpustakaan pribadi sastrawan yang anti-sekolah ini. Antisekolah, tapi karya-karyanya banyak melebihi orang-orang yang sekolah.

Begitu masuk ke perpustakaan pribadinya, kami terperangah. Luar biasa. Suasananya sangat nyaman dan tenang. Puluhan ribu judul buku, bahkan mungkin ratusan ribu judul buku menghuni perpustakaan itu. Para pencinta ilmu dan buku pasti sangat betah dan ingin berlama-lama di situ. Istri Ajip Rosidi sempat berbisik kepada saya, ”Hampir seluruh buku di perpustakaan ini sudah dibaca habis oleh Pak Ajip.” Saya hanya bisa bertasbih mendengarnya.

Dan ternyata, sesungguhnya itu koleksi buku Ajip Rosidi tidak seluruhnya bisa ditampung di perpustakaan itu. Ada ribuan judul buku yang terpaksa ditinggal di Jepang karena tidak mudah membawanya. Kami diajak masuk ke ruang kerja Pak Ajip. Ruang yang penuh dengan buku yang bertumpuk-tumpuk. Tiba-tiba saya begitu iri pada koleksi buku Pak Ajip Rosidi. Bulan Januari yang lalu telah memborong buku ribuan dolar di Cairo International Book Fair 2008. Ada seribu judul buku saya beli. Saya kirim dari Kairo ke Indonesia lewat jasa kontainer.

Saya merasa telah cukup memiliki buku. Tapi begitu melihat koleksi buku Pak Ajip Rosidi, saya seperti belum memiliki buku. Saya ingin membeli buku lagi. Dan saya ingin lebih banyak membaca. Sungguh saya sangat tertantang. Saya ingin memiliki buku lebih banyak dari Ajip Rosidi, saya juga ingin membaca lebih banyak darinya. Ya, untuk mencapai hidup sempurna, saya membutuhkan tiga hal: cinta, sahabat, dan buku! Semoga Allah meridhai. Amin.

Kota Tarakan, 2 Juni 2008

Sumber: SINDO, May 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear. Dia membuka bungkusan berbahan sutra “Ini,” dia berkata, “Bukan bungkusan yang asing lagi”

Dia membuka kotak itu dan memandang underwear berbahan sutra serta kotaknya. “Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, Kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu.

Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya. Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang istimewa.”

Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal.

Dia menoleh padaku dan berkata: “JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, KARENA SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!”

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku.

Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap Hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum spesialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya.

Kata-kata “Suatu hari” dan “Suatu saat nanti” sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu Dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya, Ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.

Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan underwear kesayangannya itu. Atau sehari sebelumnya dia akan menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelepon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan Kita sesali jika tak sempat Kita lakukan. Kita akan menyesalinya, karena Kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang kita sayangi.

Aku teringat orang-orang yang aku kasihi, aku akan menyesal dan merasa sedih, jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka. Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.

Ingatlah bahwa “Suatu hari” dan “Suatu saat nanti” itu sangat jauh. Dan mungkin tidak akan pernah datang padamu.

Kesadaran berTUHAN

Kesadaran BERTUHAN

TIGA hari yang lalu, Jumat 23/5, dalam sebuah perjalanan di Ibu Kota, mobil yang kami tumpangi terjebak macet di jalan Jenderal Sudirman. Di balik kaca mobil, saya melihat seorang pedagang asongan sedang sibuk menjajakan barang dagangan. Pedagang asongan itu mendekat menjajakan dagangan pada kami. Saya sempat bersimpati padanya.

Ia seorang laki-laki yang gigih, yang tanpa kenal lelah menyusuri jalan Ibu Kota, bermandikan peluh, melawan sengatnya panasnya matahari dan racun polusi udara yang menebar di mana-mana, demi mencari nafkah menghidupi keluarganya. Sesuatu yang teramat dihargai Rasulullah SAW. Pernah, Rasulullah mencium tangan Sa’ad bin Musa Al-Anshari, seorang sahabat yang melepuh tangannya lantaran digunakan untuk mencangkul demi nafkah keluarga sembari bersabda, ”Inilah tangan yang tidak pernah disentuh api neraka. Dalam riwayat yang lain,”Hadzihi yaddun yuhibuhallahu wa Rasuuluhu” Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.”

Pedagang asongan itu begitu gigih menjajakan dagangannya. Dalam detik detik nan singkat itu, konsentrasi saya pun beralih pada salah satu barang yang ia tawarkan, majalah Tempo edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908–2008 dengan judul ”Indonesia Yang Kuiimpikan, 100 Tahun Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri”. Hati saya tergerak untuk membelinya.

”Berapa Pak,” tanya saya dari dalam mobil ”Rp57.000, Pak,” jawab pedagang asongan dengan mantap. ”Kok Mahal banget Pak!” Balas saya. Saya merasa harganya tidak wajar. Biasanya majalah seperti itu sekitar dua puluh ribuan.Saya ragu. ”Edisi khusus, Pak!” jawab pedagang asongan itu meyakinkan, telunjuknya mengarah pada judul besar yang tertera di sampul majalah,lalu mengarah pada harga yang tertera di pojok bawah sebelah kanan. Ya, terlihat sepintas berharga Rp57.000. Akhirnya saya beli meskipun saya merasa harga itu mahal. Beberapa saat kemudian, ketika mobil kami kembali melaju meninggalkan pedagang asongan, saya baru sadar kalau saya baru saja tertipu. Setelah saya membuka plastik pembungkus majalah itu, saya melihat ada keganjilan pada harga yang tertera di sampul luar. Angka 5 sepertinya bukan angka yang sebenarnya. Saya perhatikan lebih detail. Dan benar, angka itu sesungguhnya angka 2 yang beberapa bagian dikerok lalu diubah menjadi angka lima dengan pena berwarna hitam. Harga majalah itu sebenarnya bukanlah Rp57.000 rupiah tetapi Rp27.000 rupiah.

Saya sempat marah saat itu. Simpati saya pada pedagang asongan itu buyar. Ada rasa mangkel, kesal atau gondok lantaran saya kapusan, tertipu oleh pedagang kecil. Saya benar-benar merasa dibodohi. Namun, pada saat yang sama, saya juga merasa prihatin. Kasihan sekali pedagang asongan rezekinya. Kasihan juga para pedagang asongan yang lain, yang baik dan jujur.

Kasihan jika gara-gara satu orang pedagang asongan yang menipu, maka banyak orang akan menganggap bahwa seluruh pedagang asongan sama; penipu. Dan semakin susahlah mereka mengais rezeki. Jujur, saat itu rasanya saya ingin menangis. Di tangan saya tergenggam sebuah majalah edisi khusus tentang kebangkitan bangsa, tapi pada saat yang sama, kisah nyata yang menyakit bagaimana saya mendapatkan majalah itu mengingatkan betapa beratnya menjadikan bangsa ini bangkit.

Berat, lantaran korupsi dan keculasan ternyata tidak lagi milik orang-orang elite, tapi korupsi sudah merembet sampai kalangan masyarakat kelas bawah. Ada sopir yang korupsi dengan menurunkan penumpangnya di tengah jalanan. Ada kondektur kereta api yang menerima sogokan penumpang gelap. Ada orang-orang kampung yang nekat mencuri arus listrik. Ada orang orang yang nekat mendirikan bangunan di atas sungai-sungai. Ada orang-orang yang pura-pura cacat untuk mengemis dan sebagainya. Ada penjual asongan yang menyulap harga Rp27.000 menjadi Rp57.000. Mentalitas buruk semacam itu hanya akan membuat bangsa ini akan semakin terpuruk. Kebangkitan bangsa menjadi impian belaka.

100 tahun kebangkitan bangsa. Keadaan negeri ini seolah semakin buruk saja. Akan jadi seperti apa peradaban di negeri ini jika budaya tipu menipu berkembang di mana-mana? Terasa benar ada krisis moral yang sangat akut di negeri ini sebelum krisis ekonomi dan krisis politik terjadi. Saya jadi teringat rahasia kemajuan peradaban manusia zaman Khalifah Umar bin Khatab ra. Menurut banyak sejarawan, yang menjadi resep kemajuan masa Kekhalifahan Umar yang teramat memukau itu, adalah kesadaran ketuhanan warganya yang begitu menyeluruh sampai level-level yang paling pelosok dalam masyarakat paling bawah. Rasa ketuhanan yang kuat akan melahirkan rasa tanggung jawab yang kuat.

Ada kisah indah yang diukir sejarah di masa Umar bin Khattab ra., Suatu hari, Umar menjumpai seorang pemuda penggembala yang tinggal di pelosok negara. Lalu tebersitlah keinginannya untuk mengujinya. ”Wahai anak muda, aku lihat kambing gembalaanmu banyak sekali, bagaimana kalau kau jual satu padaku?” Tanya umar.

”Maaf Tuan, tapi kambing ini bukan milik saya, tapi milik majikan saya, saya di sini hanya menjaga dan menggembala.” Jawab penggembala. ”Tidak apa-apa. Ternak milik majikanmu begitu banyak, kalau kurang satu saja ia tidak akan tahu, atau kalau ia tahu, kau bisa berkilah bahwa kambing itu hilang karena dimakan serigala. Dengan begitu kamu dapat mengambil keuntungan darinya.” Rayu Umar.

”Kalau saya melakukan itu, lalu di mana Allah? Tuan, mungkin saya bisa mendustai majikan saya, tapi bagaimana dengan Allah, Tuhan saya Yang Maha Melihat?!” Jawab pemuda penggembala dengan nada bergetar. Khalifah Umar bin Khattab ra menangis haru mendengar jawaban jujur penuh keimanan pemuda itu. Keimanan kepada Allah SWT, keimanan akan adanya Hari Pembalasan begitu menghunjam dalam di dada. Itulah salah satu rahasia kemajuan Kekhalifahan Umar bin Khattab.

Di masanya, dalam waktu teramat singkat wilayah Islam begitu meluas menandingi dua adidaya: Persi dan Romawi. Itu terjadi lantaran fondasi utama yang menjadi prasyarat kemajuan bangsa telah dipenuhi, yaitu kesadaran ketuhanan dalam masyarakat. Kesadaran yang merata bahkan sampai seorang penggembala di pelosok negeri. Jika kesadaran bertuhan penduduk negeri ini sama dengan kesadaran bertuhannya penggembala di atas, pastilah di Indonesia sangat susah ditemui adanya penipu dan koruptor.

Tidak akan ada dosen yang meninggalkan perkuliahan untuk ngobyek proyek. Tidak ada sopir yang menurunkan penumpangnya di jalanan sebelum sampai tujuan. Tidak ada polisi yang nakal di jalan. Tidak akan ada pemimpin yang hanya mengobral janji dan tega membohongi rakyatnya. Juga tidak ada penjual asongan yang menyulap harga Rp27.000 menjadi Rp57.000.

Karena semua tahu bahwa Allah tak pernah bisa ditipu. Dengan demikian, perlahan negeri ini akan menemukan titik terang kejayaan dan kebangkitan negeri Indonesia pun bukan lagi sekadar mimpi, tapi benar benar terjadi.

Makassar, 26 Mei 2008

Sumber: SINDO, May 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

Sesendok MADU untuk INDONESIA

SAYA pernah terkesan dengan sebuah kisah yang saya dapat ketika saya masih belajar di bangku Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta.

Kisah itu disampaikan oleh seorang ustad untuk memotivasi kami agar tidak meremehkan sebuah tanggung jawab sekecil apa pun. Kisah tentang bejana raja yang berisi air. Saat itu saya tidak tahu dari mana ustad mendapatkan kisah itu.

Dari buku apa, dari kitab apa? Belakangan saya mendapati kisah serupa termaktub juga dalam buku Lentera Hati karya Prof Quraish Shihab. Dikisahkan, suatu ketika seorang raja yang bijaksana ingin menguji kesadaran dan loyalitas rakyatnya. Sang raja menitahkan agar setiap orang pada malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu, untuk dituangkan dalam bejana yang telah disediakan di puncak sebuah bukit tak jauh dari ibu kota kerajaan. Seluruh rakyatnya pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Akan tetapi, ada seorang rakyat yang berpikiran nakal, terlintaslah satu cara untuk mengelak dari titah raja. Dalam hati ia berkata, ”Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Tak akan ada yang tahu. Raja juga tidak akan tahu kalau aku cuma bawa sesendok air. Dan Bukankah sesendok air tidak akan mempengaruhi satu bejana berisi madu yang dibawa oleh seluruh rakyat negeri ini” Malam yang ditentukan telah berlalu. Dan tibalah saat yang bersejarah untuk melihat isi bejana.

Betapa kagetnya sang raja, juga seluruh rakyatnya, ternyata bejana yang besar itu hanya penuh dengan air saja. Rupanya seluruh rakyat negeri itu memiliki pikiran nakal yang sama. Punya ide negatif yang sama. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang membawa sesendok air, yang lain pasti membawa madu. Mereka berpikir bahwa jika cuma dirinya saja yang membawa sesendok air dan seluruh rakyat membawa madu, maka tidak apa apa.

Tidak berpengaruh apa-apa. Seluruh rakyat berpikiran yang sama, jadinya bejana itu tidak berisi madu seperti yang diharapkan sang raja, tapi berisi air. Dulu, saat mendengar cerita itu saya sempat tersenyum karena lucu. Namun belakangan ini, ketika mengingat kembali kisah bejana berisi air itu di sela-sela aktivitas saya, saya tidak lagi bisa menemukan perasaan lucu itu.

Sebaliknya, yang terbit justru perasaan miris, yang tiba-tiba mencengkeram batin saya. Ada rasa takut bahwa dua adegan dalam kisah di atas tidak lagi menjadi cerita dongeng belaka, tapi telah sungguh-sungguh, menjelma menjadi sebuah potret atas kenyataan yang sedang berlangsung di negeri kita. Di mana seluruh penduduknya adalah aktor dengan watak yang serupa dalam dua cerita di atas. Jujur, kita masih sangat sering menjumpai dan mendengar adanya oknum pegawai negeri yang keluyuran di tengah tengah jam kerja. Dia mungkin berpikir, ”Ah cuma setengah jam. Tidak akan mengganggu kinerja. Tidak akan merugikan negara. Tidak akan menghambat kemajuan negeri ini. ”Cobalah kita renungkan jika ada ratusan ribu pegawai negeri yang berpikiran dan berperilaku seperti itu, berapa besar kerugian negara ini. Berapa besar jumlah uang rakyat yang digunakan untuk menggaji orang-orang yang kerjanya keluyuran seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada oknum guru yang membocorkan kunci jawaban ujian nasional. Mungkin guru itu berpikiran sangat pragmatis, ”Ah yang aku beri tahu kunci jawaban itu cuma satu dua orang muridku. Tidak akan mempengaruhi SDM bangsa Indonesia. ”Saya sangat khawatir jika ternyata yang berpikiran tidak disiplin dan sembrono seperti itu ternyata tidak satu dua guru, bagaimana jika puluhan ribu guru? Kita juga masih sering mendengar berita pejabat dan anggota dewan yang berperilaku amoral. Hotel prodeo sesak oleh oknum pejabat dan anggota dewan yang terbukti korupsi. Mungkin saat mereka melakukan korupsi berpikiran, ”Ah jika aku ambil sedikit kan tidak apa apa.

Negara ini kaya, diambil sedikit tidak kentara dan tidak berpengaruh apa-apa.” Bagaimana jika pikiran jahat seperti itu masih mengakar di kepala para anggota dewan. Apa yang akan terjadi pada negeri ini? Berita meninggalnya Sophan Sophian mengejutkan kita semua. Beliau meninggal karena kecelakaan di jalan raya, di Sragen. Kecelakaan karena lubang kecil saja di jalan raya. Mungkin pejabat yang bertanggung jawab saat tahu ada jalan yang lubang, dalam benaknya muncul pikiran, ”Ah cuma lubang kecil. Tidak apa apa. Tidak mempengaruhi maju mundurnya Indonesia.” Ya, cuma lubang kecil. Bagaimana jika yang jatuh kemudian tewas karena lubang kecil di jalan itu adalah orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia? Bagaimana jika yang jatuh adalah seorang ilmuwan yang sangat penting bagi Indonesia dan dunia? Untuk menyelamatkan Indonesia sebenarnya tidak perlu teori yang muluk-muluk dan njelimet.

Cukuplah dimulai dari membenahi cara berpikir seluruh elemen negeri ini. Jika seluruh elemen bangsa ini, seluruh rakyat, dan seluruh aparatur pemerintahnya berpikir positif, bersih, jujur, bertanggung jawab dan tidak mementingkan diri sendiri, insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.

Namun, jika ada satu orang saja di negeri ini berpikiran jahat, culas, mengkhianati negara, maka sangat berat untuk membangun Indonesia sebagai negara yang besar, makmur, dan sejahtera. Cukuplah jika Indonesia meminta sesendok madu, jangan sekali-kali––mulai presiden sampai rakyat jelata––berpikir untuk membawa sesendok air, apalagi berpikir tidak membawa apa-apa.

Berilah Indonesia sesendok madu, maka bejana Indonesia akan penuh madu. Jika Indonesia meminta untuk tidak korupsi, untuk bertanggung jawab, jangan pernah ada yang tebersit untuk korupsi meskipun hanya sebutir kerikil, insya Allah kita akan bangkit, maju, dan jaya. Mari kita beri sesendok madu untuk bejana Indonesia. Mari!

Jakarta, 19 Mei 2008

Sumber: SINDO, May 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)

Tulisan Sebelumnya »