Dari Audisi KETIKA CINTA BERTASBIH
SAAT menulis kolom ini, saya baru saja selesai melakukan satu kerja maraton selama empat hari. Saya menjadi juri Audisi 5 Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) untuk wilayah Jabodetabek bersama Sutradara Chaerul Umam, Neno Warisman, Didi Petet, Zak Sorga, dan ternan-ternan dari Sinemart. Audisi dilakukan di GOR Ragunan, Jakarta. Peserta yang datang membludak Tak kurang dari 2.500 orang. Itu pun pada menit terakhir hari keempat, masih banyak yang mendaftar ikut audisi. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, audisi terpaksa ditutup pada angka 2.535. Audisi yang diadakan di Jakarta adalah yang terakhir dari sembilan kota besar di Indonesia. Sebelumnya telah dilakukan audisi di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Padang, Makassar, Pontianak, dan Bandung.
Di semua kota, audisi ini disambut sangat hangat oleh masyarakat. Audisi di Semarang misalnya, didatangi peserta hampir merata dari seluruh kota di Jawa Tengah seperti Semarang sendiri, Salatiga, Pemalang, Pekalongan, Purwokerto, Temanggung, Magelang, Solo, Kudus, Blora, dan kota kecil lainnya. Mereka datang dari berbagai kalangan. Ada pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, karyawan bank, guru TK, bahkan ibu rumah tangga. Mereka semua ingin terpilih jadi artis. Motivasi ikut audisi juga bermacam-macam. Ada yang karena niat untuk dakwah. Ada yang sekadar ingin cari pengalaman. Ada yang katanya diminta orang tua. Ada yang katanya ingin jadi orang ndeso yang terkenal. Ada juga yang ingin mengubah nasib ekonomi keluarga. Kecuali sebagian peserta yang tutus karena ingin andil berdakwah, memajukan bangsa, sebagian besar masih tampak bahwa motivasi audisi adalah ingin jadi artis terkenal.
Di Indonesia, bahkan di dunia secara umum, menjadi artis terkenal adalah dambaan banyak orang. “Siapa sih yang tidak ingin jadi artis?” kata seorang remaja yang ikut audisi di Semarang. Menurut Zak Sorga dengan nada menantang dalam bukunya 5 Terobosan Menjadi Artis, hanya orang gila yang tidak mau jadi artis. Dalam logika kebanyakan orang, jadi artis itu enak. Jadi artis bisa hidup enak. Di mana-mana banyak ternan, banyak yang mengenal. Banyak yang mengagumi dan mendoakan. Jalan ke mana-mana mudah. Tidak hanya gratis, malah dibayar. Berbicara setengah jam saja sekian juta. Cuma senyum saja dalam sebuah iklan bisa dapat sekian ratus juta. Juga dalam logika realistis, melalui dunia artis, banyak bidang yang bisa dirintis. Setelah sukses jadi artis, bisa jadi pengusaha, konsultan tata busana, jadi politikus, duta PBB, bahkan bisa jadi bupati, gubernur bahkan presiden. Ronald Reagan yang mantan presiden Amerika Serikat itu dulu adalah seorang artis.
Di Indonesia banyak artis yang jadi anggota DPR, bahkan wakil gubernur. Bahkan, ada yang jadi ustadz. Itulah kenapa dalam audisi KCB di Bandung sampai ada peserta yang pingsan ketika diumumkan bahwa dia tidak lolos ke babak kedua. Pingsan tidak hanya sekali, tapi tiga kali. Tidak lolos masuk babak berikutnya seolah-olah sudah kiamat. Hal yang sama sekali jauh dari tujuan diadakannya audisi film Ketika Cinta Bertasbih.
Film yang diangkat dari novel Ketika Cinta Bertasbih ini, bertujuan untuk turut membangun mental dan karakter generasi muda di Indonesia. Diadakannya audisi di sembilan kota adalah demi mencari pemeran utama yang karakternya dekat dengan lima tokoh utama, yaitu Azzam, Anna, Husna, Furqan, dan Eliana. Karakter yang layak jadi teladan baik di dalam film maupun di luar film. Tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat untuk menjadi agen perbaikan bagi lingkungannya bukan yang sekadar tampan atau cantik. Tadi malam, saat para peserta menerima amplop dari dewan juri. Amplop yang menentukan mereka lolos dan tidak ke tahap berikutnya. Ada adegan yang menarik dihayati. Ada peserta yang menangis karena lolos. Ada peserta yang menangis karena gagal. Ada yang merasa dirinya sudah memiliki segalanya untuk jadi pemeran utama, tapi gagal. Ada artis yang ikut audisi tapi tidak berani ikut acara pengumuman, sebab malu kalau ternyata gagal.
Dengan hati bergetar, saya berusaha mengambil hikmah dengan mengingatkan pada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh peserta audisi malam itu. Bahwa ini baru audisi di dunia, ada audisi sesungguhnya di akhirat nanti. Audisi yang paling menentukan. Yang menilai semua akting kita selama hidup di dunia. Saatnyalah ditengah glamor duniawi untuk juga merenungi kira-kira apa hasil audisi kita di akhirat kelak. Saat itu dengan tangan kiri ataukah dengan tangan kanan kita menerima hasil audisi kita? Bahagia atau sedihkah kita saat itu? Bangga atau malukah kita? Di surga ataukah di neraka tempat kita selanjutnya? Audisi di akhirat itulah yang menentukan kita jadi bintang sesungguhnya ataukah jadi orang paling menderita. Dan jika kita, penduduk negeri ini, senantiasa mengingat audisi akhirat, maka negeri ini akan dipenuhi orang-orang yang sangat menjaga kualitas hidupnya. Jika itu yang terjadi negeri ini akan segera makmur dan sejahtera. Amin.
Jakarta, 14 Juli 2008
Sumber: SINDO, Juli 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)









