DOOR DUISTENIR TOT LICH; HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
(SURAT CINTA R A KARTINI)
Satu lagi tulisan Kang Abik muncul, kali ini dalam memperingati Hari Kartini 21 April 2008, ternyata setelah membaca kisah yang ditampilkan Kang Abik mengenai RA Kartini, tidak salah jika beliau memang pantas dikenang dan menyandang predikat salah satu pahlawan wanita. Dalam kisah hidup dan surat-surat yang dibuat beliau banyak sekali mengandung petuah-petuah bijak yang dapat dijadikan pelajaran hidup untuk bangsa Indonesia terutama kaum perempuan agar dapat bangkit dan maju bersama membangun Indonesia. Dan di Hari Kartini ini, DenMas mengucapkan Selamat Hari Kartini kepada seluruh kaum perempuan Indonesia.
***
”Seorang
perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan rasa cinta yang ada di dalam hatinya, dengan segala bakti yang dapat diamalkannya, itulah perempuan yang patut disebut sebagai ibu dalam arti yang sebenarnya”. Itulah petikan surat yang ditulis oleh seorang putri Bupati Jepara bernama R A Kartini pada tanggal 2 September 1902, kepada sahabatnya, Nyonya RM Abendanon-Mandri.
Persis seperti apa yang pernah ia pikirkan itu, saat ini Kartini benar-benar telah menjadi seorang ibu; bukan semata-mata bagi satu individu dua individu, yang terlahir dari rahimnya, tapi kita seluruh anak bangsa ini. Bangsa ini telah menjadikan R A Kartini sebagai ibu bangsa ini, sebagai pahlawan dan kita pun memanggilnya Ibu Kita Kartini. Mengingat sosok R A Kartini, bayangan kita pasti tidaklah lepas dari sederet kalimat indah, berbunyi ”Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Itulah sari pati ajaran Kartini yang ditujukan pada bangsanya, sebuah sikap optimistis bahwa dalam kegelapan harapan akan datangnya cahaya harus benar-benar kita yakini. Kita sama-sama tahu bahwa Ibu Kita Kartini telah melakukan ajarannya itu. Hidup dalam zaman yang begitu suram, tak pernah ia berhenti berjuang untuk menjadi yang lebih baik, dan tentunya tak pernah ia berhenti menengadah tangan memohon pertolongan Allah SWT.
Dan itu semua bisa kita baca dalam kumpulan suratnya yang dulu pernah diterbitkan oleh Mr Abendonen pada tahun 1911 dengan judul Door Duistenir Tot Lich yang akrab dengan telinga kita dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang bisa juga berarti Dari Gelap Menuju Cahaya atau dalam bahasa Al-qurannya Min adz Dzulumaati Ila an Nuur. Dari judul kumpulan surat R A Kartini, kita tahu bahwa judul itu terinspirasi dari Al-quran. R A Kartini dalam sejarahnya ternyata adalah juga seorang yang tidak jauh dari ajaran Alquran.
Konon, R A Kartini pernah belajar pada Kiai Saleh Darat, seorang ulama legendaris dari Semarang yang sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir utara. Ceritanya, suatu waktu R A Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para raden ayu yang lain dari balik tabir.
Kartini tertarik pada materi yang sedang diberikan, tafsir surat Al-Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya menemui Kiai Saleh Darat. Begitu bertemu, Kartini mengajukan pertanyaan, ”Kiai, perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya?” Tertegun sang Kiai mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis.
Kiai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yang diajukan Kartini karena sebelumnya pernah terlintas dalam pikirannya. Singkat cerita, tergugahlah Sang Kiai untuk menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kiai Saleh Darat memberikan kepadanya terjemahan Alquran juz pertama. Mulailah Kartini mempelajari Alquran.
Tapi sayang, sebelum terjemahan itu rampung, Kiai Saleh Darat wafat. Meskipun terhitung singkat R A Kartini bersentuhan dengan tafsir yang ditulis Kiai Saleh Darat, celupan ajaran Alquran yang mulia itu bisa kita lihat dari kumpulan surat-suratnya: Habis Gelap Terbitlah Terang.
R A Kartini memang seorang perindu kebenaran. Dan kebenaran itu seolah menjadi satu-satunya tujuan yang terus ia cari sampai akhir hayatnya. Hatinya yang bersih, tidak tahan berlama-lama dalam zaman kegelapan, pernah ia merintih atas kemaksiatan yang berlangsung di lingkungannya, sedang ia merasa tidak berdaya menghentikan semua kemaksiatan itu.
Rintihan itu ia tulis dalam sebuah surat yang ia kirimkan kepada nona E H Zeehandelaar, tertanggal 25 Mei,1899: ”Banyak orang mengatakan bahwa menghisap madat itu tidak jahat, tapi mereka yang mengatakan demikian belum melihat Hindia atau melihat dengan mata buta… Bukan kejahatan! Lalu bagaimana dengan pembunuhan, pembakaran, pencurian yang amat banyak itu, yang merupakan akibat langsung daripada minuman madat?… Saat orang tidak memiliki uang, tidak bisa mengisap madat dan ia sudah sangat kecanduan, maka ia berbahaya. Perut lapar dapat membuat orang menjadi pencuri, tetapi ketagihan madat membuat orang menjadi pembunuh. Ya Tuhan sedih sekali melihat kejahatan sebanyak itu di sekeliling diri dan kami tidak berkuasa melawannya”.
Apa hakikat dari kehidupan? Pertanyaan semacam ini pernah menyusup dalam batinnya, seperti halnya pertanyaan-pertanyaan eksistensialis semacam mengapa manusia harus hidup, dan apa yang semestinya manusia lakukan dalam hidupnya? Atau, bagaimana agar hidup benar-benar bermakna?
Dan Kartini tak pernah berhenti untuk mencari jawabannya Tanggal 15 Agustus 1902, dalam suratnya kepada Tuan E C Abendanon, ia seperti hendak menjawab pertanyaannya sendiri dan ia pun menulis, ”Alangkah senangnya, bahagia rasa hati untuk mencari yang elok, yang baik untuk dan dalam segala hal. Cahaya Allah SWT ada dalam tiap-tiap orang. Dalam apa saja, bahkan juga dalam sesuatu yang tampaknya buruk. Kebenaran wajib meresap dalam hati banyak orang dan orang banyak wajib memandangnya sebagai suatu kewajiban. Kewajiban yang membuat hidup menjadi indah, baik bagi orang lain, maupun bagi diri sendiri.”
Membacanya saya benar-benar tersentuh, teringat saya atas petuah agung Baginda Rasulullah bahwa ”Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak kemanfaatannya untuk manusia yang lain”. R A Kartini tentulah sangat mengerti, berjalan menuju cahaya Allah SWT bukanlah perkara yang mudah, tapi yang tidak mudah bukan berarti harus membuat kita menyerah. Awan boleh saja menjadikan bumi ini gelap gulita, tapi awan tidak pernah meniadakan matahari, suatu saat awan-awan itu akan menyingkir dan bumi pun terasa lebih terang oleh cahaya matahari.
Tanggal 28 Juli 1902, kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri, R A Kartini menulis, ”Tetapi di langit tiada awan yang selamanya tetap, demikian pula tiada sinar matahari yang memancar terus menerus. Dari malam yang gelap gulita, kerap kali lahirlah pagi yang teramat indah. Kehidupan manusia adalah pencerminan kehidupan alam yang paling baik. Yang harus kita panjatkan tiap-tiap hari kepada Allah SWT ialah doa semoga kita dikaruniai kekuatan!” Dan R A Kartini merasa bahwa keindahan hanya akan terjadi tatkala manusia mau mengikuti jalan yang telah dibentangkan oleh Allah SWT dan sungguh-sungguh menghayatinya. Pada tanggal 21 Juli 1902, kepada Nyonya N Van Kol, ibu Kartini mengungkapkan itu, ”Aduhai, seandainya agama itu dipahami dan dipatuhi, maka terwujudlah maksud yang murni bagi umat manusia, ialah berkah.”
R A Kartini telah meninggalkan kita semua, dalam usia yang teramat muda,25 tahun. Tepatnya 17 September 1904, empat hari setelah kelahiran putranya, Raden Mas Singgih. Namun, ia telah meninggalkan kumpulan ”surat-surat cinta” yang sangat berharga bagi bangsa ini. Ia juga telah membuktikan, betapapun singkat hidup ini, jika manusia punya impian dan tidak berhenti berharap dan mengikuti cahaya Allah, semuanya tidaklah sia-sia.
Itulah yang semestinya dilakukan oleh bangsa ini agar keluar dari kegelapan menuju cahaya kemajuan yang benderang. Door Duistenir Tot Lich. Habis Gelap Terbitlah Terang!
Kairo, 21 April 2008
Sumber: SINDO, April 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)
***
Dalam surat-surat yang ditulis RA Kartini dan dimuat di tulisan Kang Abik di atas, disitu tergambar jelas bahwa beliau seorang yang cerdas, memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, keinginan yang sangat dalam memajukan kaum dan bangsanya, serta taat pada agama yang dianutnya. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia kita bangga memiliki seorang Kartini, dan beliau patut dijadikan salah satu tauladan bagi bangsa dalam meniti jalan yang terbelakang (gelap) menuju jalan kemajuan (terang).
setuju
mari sebarkan semangat maju
habis gelap terbitlah terang bukan malah padam
setuju ?
thanks y…
arg kamu dh ngntu gw bngt…