CINTA, SAHABAT, dan BUKU
MONTESQUE, pemikir besar Eropa Abad Pertengahan pernah berkata, ”Untuk mencapai hidup sempurna, saya membutuhkan tiga hal: cinta, sahabat, dan buku!” Apa yang diharapkan Montesque, sepertinya telah dimiliki seorang sastrawan terkemuka Indonesia, yaitu Ajip Rosidi.
Pertengahan bulan lalu, tepatnya pada hari Jumat (16/5), saya berkesempatan berkunjung ke rumah sastrawan yang menulis buku Rikmadenda Mencari Tuhan itu. Saya bersama sutradara Chairul Umam, adik saya, Anif Sirsaeba, dan Dani Sapawie dari Sinemart. Awalnya niat kami adalah sekadar refreshing, setelah satu hari penuh memeras otak mendiskusikan skenario film Ketika Cinta Bertasbih di Semarang.
Sutradara Chairul Umam mengusulkan untuk melihat Pesantren Pabelan, Magelang. Dia ingin bernostalgia saat dulu pernah menggarap film Al Kautsar di pesantren itu. Menjelang Ashar kami sampai di Pabelan. Kami disambut dengan sangat hangat oleh pengasuh pesantren. Kami diajak mengelilingi pesantren yang pernah menerima penghargaan Aga Khan tingkat dunia Islam itu. Setelah cukup bersilaturahmi, oleh pengasuh pesantren, kami diantar ke tempat tinggal Ajip Rosidi yang letaknya tidak begitu jauh dari pesantren.
Kediaman sastrawan yang pernah seperempat abad mengajar di Jepang itu berdiri atas tanah seluas tidak kurang empat hektare. Ada empat bangunan berbentuk vila di situ. Satu vila untuk tamu, yang kedua untuk anak, ketiga tempat tinggal sang sastrawan dan yang keempat, yang terletak di samping pintu gerbang adalah perpustakaan. Cinta, sahabat, dan buku! Demikian kata Montesque. Kami datang disambut oleh istri Ajip Rosidi dengan sangat ramah. Dia lalu membangunkan sang suami yang sedang beristirahat. Kami melihat sekilas kemesraan di antara mereka. Lalu muncul anak menantu dan cucu Ajip Rosidi.
Sekilas kami bisa menangkap binar rasa bahagia di mata Pak Ajip Rosidi memandangi cucunya. Itulah cinta. Itulah mawaddah. Lalu saya melihat bagaimana hangatnya dua sahabat lama bertemu, berangkulan dan bersenda-gurau. Itulah Ajip Rosidi dan Chairul Umam. Keduanya begitu akrab dan tidak lagi ”menjaga” kebesaran nama masing-masing. Bergurau begitu saja. Santai. Kami semua jadi ikut bergurau. Di sela-sela ngobrol, Ajip Rosidi sempat memuji novel Ayat- Ayat Cinta.
”Jujur saja, saya membacanya setelah Ayat-Ayat Cinta terjual sebanyak empat ratus ribu eksemplar. Saya kan jadi penasaran, belum pernah di Indonesia ada karya sastra yang diapresiasi dan dibaca masyarakat luas seperti Ayat-Ayat Cinta. Ini sungguh karya yang fenomenal,” kata Pak Ajip Rosidi. ”Ya cukup, sampai di situ saja. Jangan dikritik! Kamu buat dulu yang lebih best seller dari Ayat-Ayat Cinta baru mengkritik. Hehehe…,” canda Chairul Umam memotong perkataan Ajip Rosidi.
Keduanya lalu tertawa renyah. Cucu dan menantu Pak Ajip muncul dan minta foto bersama. Ternyata mereka pencinta Ayat- Ayat Cinta. Ajip Rosidi adalah sastrawan besar, dan Chairul Umam adalah sutradara dan seniman besar Indonesia. Chairul Umam sepertinya begitu hafal apa saja yang dilakukan Ajip Rosidi dan keluarganya. Seolah-olah Chairul Umam itu bagian dari keluarga Ajip Rosidi.
Itulah kesan yang saya tangkap. Di jalan ketika kembali ke Semarang lewat Ketep, Chairul Umam masih sempat bercerita kepada kami tentang kebaikan-kebaikan Ajip Rosidi waktu muda. Di Ketep, Chairul Umam bercerita bahwa dirinyalah orang Indonesia yang pertama kali membacakan cerpen di TIM Jakarta, dan itu atas rekomendasi Ajip Rosidi. Sejak itulah di Indonesia dikenal adanya pembacaan cerpen. Saya baru tahu mereka berdua termasuk jenis manusia pencipta sejarah.
Saya jadi banyak belajar, khususnya tentang kesetiaan seorang sahabat. Itulah sahabat. Itulah kesetiaan seorang sahabat. Setelah memiliki cinta, memiliki sahabat sejati adalah kesempurnaan yang tiada ternilai harganya. Dan buku! Sebelum meninggalkan kediaman Ajip Rosidi, kami sempat diajak melihat-lihat perpustakaan pribadi sastrawan yang anti-sekolah ini. Antisekolah, tapi karya-karyanya banyak melebihi orang-orang yang sekolah.
Begitu masuk ke perpustakaan pribadinya, kami terperangah. Luar biasa. Suasananya sangat nyaman dan tenang. Puluhan ribu judul buku, bahkan mungkin ratusan ribu judul buku menghuni perpustakaan itu. Para pencinta ilmu dan buku pasti sangat betah dan ingin berlama-lama di situ. Istri Ajip Rosidi sempat berbisik kepada saya, ”Hampir seluruh buku di perpustakaan ini sudah dibaca habis oleh Pak Ajip.” Saya hanya bisa bertasbih mendengarnya.
Dan ternyata, sesungguhnya itu koleksi buku Ajip Rosidi tidak seluruhnya bisa ditampung di perpustakaan itu. Ada ribuan judul buku yang terpaksa ditinggal di Jepang karena tidak mudah membawanya. Kami diajak masuk ke ruang kerja Pak Ajip. Ruang yang penuh dengan buku yang bertumpuk-tumpuk. Tiba-tiba saya begitu iri pada koleksi buku Pak Ajip Rosidi. Bulan Januari yang lalu telah memborong buku ribuan dolar di Cairo International Book Fair 2008. Ada seribu judul buku saya beli. Saya kirim dari Kairo ke Indonesia lewat jasa kontainer.
Saya merasa telah cukup memiliki buku. Tapi begitu melihat koleksi buku Pak Ajip Rosidi, saya seperti belum memiliki buku. Saya ingin membeli buku lagi. Dan saya ingin lebih banyak membaca. Sungguh saya sangat tertantang. Saya ingin memiliki buku lebih banyak dari Ajip Rosidi, saya juga ingin membaca lebih banyak darinya. Ya, untuk mencapai hidup sempurna, saya membutuhkan tiga hal: cinta, sahabat, dan buku! Semoga Allah meridhai. Amin.
Kota Tarakan, 2 Juni 2008
Sumber: SINDO, May 2008 oleh Habiburrahman El Shirazy (Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta)
